April 22, 2012

Mabit NF as Innovation

Latar belakang
Dunia pendidikan Indonesia telah berkembang pesat selama ini, banyak inovasi-inovasi yang telah diciptakan agar mampu menyelesaikan masalah pembelajaran yang terjadi hampir di setiap instansi-instansi pendidikan Indonesia seperti sekolah. Namun, Inovasi-inovasi pada bidang pendidikan yang diciptakan pada sekolah tidak lah cukup untuk memuaskan pencapaian hasil belajar yang tinggi dan produk yang berkualitas. Oleh karena itu bukan hanya pada lembaga pendidikan formal seperti sekolah, tetapi juga lembaga nonformal pun banyak melakukan inovasi-inovasi pendidikan dengan tujuan utamanya adalah penyelesaian setiap masalah belajar yang ada pada diri peserta didik. Sebagai contoh adalah munculnya tempat bimbel, tempat kursus keahlian, kegiatan home schooling, dll. Pada umumnya tempat-tempat belajar ini muncul dalam rangka memecahkan masalah seperti kurangnya pengetahuan yang tidak didapat disekolah, butuh waktu khusus dalam belajar, suasana belajar yang lebih privat, dan lain sebagainya.
Pada artikel ini, pembahasan dikhususkan pada inovasi yang dilakukan pada sebuah lembaga pendidikan nonformal bimbingan belajar Nurul Fikri Mampang. Nurul Fikri adalah sebuah lembaga pendidikan nonformal berbentuk tempat bimbingan belajar yang melakukan aktivitas pembelajarannya di luar waktu sekolah. Tempat bimbel ini (bimbingan belajar) memiliki enam ruangan kelas dengan pilihan hari dan jam belajar yang telah disediakan, sebagai contoh  setiap siswa wajib mengikuti jam belajar selama dua jam dan dua hari dalam satu minggu di luar jam sekolah. Kemudian arti dari “di luar jam sekolah” di sini adalah ketika siswa telah pulang sekolah pada hari kerja dan ataupun pada hari libur sekolah yaitu pada hari sabtu dan minggu. Bagi siwa seiring berjalannya waktu kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada tempat bimbel ini masih terasa kurang, siswa masih merasa membutuhkan jam lebih selain belajar di kelas tempat bimbel dan konsultasi dengan pengajar. Oleh karena itu pada tahun 2003 beberapa siswa dari tempat bimbel tersebut pada awalnya melakukan kegiatan belajar kelompok yang dilakukan dengan cara menginap setelah waktu bimbel telah habis.
Kegiatan belajar kelompok yang bertujuan untuk bisa mendapatkan kursi serta jurusan favorit di Perguruan Tinggi Negeri Indonesia ini rupanya mendapat respon positif oleh Nurul Fikri, sehingga Nurul Fikri memberikan tempat khusus dalam melaksanakan kegiatan belajar siswa tersebut yang awalnya bertempat di mushola kini berupa secretariat dan ruang kelas. Tahun ke tahun rupanya kegiatan belajar ini menjadi begitu besar dan mempunyai banyak anggota setiap tahunnya, kelompok belajar yang tadinya terdiri dari beberapa orang ini bernama Mabit Nurul Fikri.

Pembahasan
Profil Mabit Nurul Fikri
Mabit Nurul Fikri (disingkat Mabit NF) merupakan organisasi atau lembaga dakwah lewat jalur pendidikan di bawah pengawasan BKB Nurul Fikri. Mabit NF berasaskan dakwah, amal jamai, pendidikan, ukhuwah, dan riset yang disingkat dengan DAPUR, berdasarkan syariat Islam, dan berpegang kepada Alquran dan Sunnah. Tujuan dari Mabit NF adalah menyiarkan dakwah Islam lewat jalur pendidikan dan membangun sumber daya muslim sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan zaman. Jika asas-asas ini dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, insya Allah kita dapat mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak tinggi serta menjadikan para mabiters menjadi aktivis-aktivis kampus yang berilmu dan berakhlak.
Sasaran kegiatan Mabit Nurul Fikri adalah siswa/i  BKB Nurul Fikri PPLS, Reguler dan Ronin baik program IPA/IPS. Setelah itu anggota Mabit NF dipanggil dengan sebutan Mabiters, anggota ini wajib megikuti kegiatan akademik tiap pelajaran yang khusus diujikan ketika ujian Perguruan Tinggi Negeri. Pelajaran-pelajaran tersebut diberi nama departemen, kemudian Mabiters akan belajar di setiap departemen-departemen tersebut selama lima pekan penuh. Kegiatan belajar ini dilakukan pada hari sabtu dan minggu yang terbagi atas sesi 1 (19:00—21:00), sesi 2 (01:00—04:00), sesi 3 pada hari minggu (19:00—21:00). Bagi para anggota pria diwajibkan menginap ketika mengikuti sesi 1 dan sesi 2. Kegiatan pembelajaran ini dilakukan dengan dukungan dari para alumni sebagai pengajar yang sedang melanjutkan studi di PTN ternama Indonesia, antara lain UI, ITB, IPB, UIN, UNJ, STAN, PNJ, UGM, UNPAD, ITS, UNS, dll.

Visi
Menyiarkan dakwah Islam lewat jalur pendidikan dan membangun sumber daya muslim sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan zaman, serta menciptakan lembaga pendidikan berbasis dakwah islamiyah yang mempunyai Akses masuk yang besar untuk semua muslim yang berumur tertentu, Kualitas lulusan yang terbaik dan pengajar yang profesional, dan Efisien dalam keuangan.

Misi 
1)Membangun dan menjaga ukhuwah islamiyah sesama mabiters dan mabiters terhadap pengajar Nurul Fikri dan Mabit. 
2)Melatih para pengajar untuk menjadi pengajar yang profesional. 
3)Menambah kualitas kegiatan Mabit Nurul Fikri dengan menonjolkan unsur syiar sebagai sarana dakwah di setiap kegiatannya. 
4)Menyusun alur kegiatan akademis sebaik-baik mungkin yang disesuaikan dengan bermacam-macam tes masuk perguruan tinggi.
  
Kegiatan



Departemen


Berdasarkan gambar dari Rogers yang menunjukkan alur dari bagaimana inovasi diciptakan muncul adalah ketika terdapatnya kebutuhan dan masalah, kemudian mulai dilakukan peneletian dan rencana pengimplentasian, setelah itu inovasi dikembangkan serta diimplementasikan, lalu masuk pada tahap komersialisasi dari inovasi tersebut, dan yang pada akhirnya terdapat tahapan pendifusian dan adopsi, serta diakhiri dengan konsekuensi yang muncul.


Kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh Mabit NF muncul ketika ada kebutuhan dan permasalahan dalam pembelajaran, berikut ini adalah uraian kebutuhan dan masalah yang terjadi:

  • Pada awalnya, waku yang didapatkan ketika bimbel dirasa kurang.
  • Materi yang didapatkan dari bimbel kurang lengkap
  • Terdapat gap antara pengajar bimbel NF dengan siswa
  • SDM muslim yang sesuai dengan moral berdasarkan Alquran masih kurang banyak
  • Metode pengajaran di tempat bimbel yang hanya terpaku di dalam kelas saja
Setelah itu ketika permasalahan muncul mulai lah beberapa siswa yang dianggap sebagai founding fathers tersebut meneliti dan merencanakan wujud inovasi mulai dari referensi kurikulum yang digunakan, bekerja sama dengan NF, dan mewujudkan produk inovasi yang selanjutnya dikembangkan lebih lanjut dengan memperhatikan aspek-aspek yang menunjang kegiatan selanjutnya. Setelah dimulainya tahun ajaran baru maka produk inovasi ini dikomersialisasikan di NF dan sekolah-sekolah untuk mendapatkan anggota (peserta didik). Ketika tahap tersebut telah dilakukan, tahap berikutnya adalah ketika proses penyebaran dan pengadopsian inovasi. Tahap konsekuensi adalah ketika calon anggota memutuskan dalam mengadopsi (masuk ke dalam kegiatan tersebut) atau menolaknya dengan tidak mengikuti kegiatan tersebut.

Kesimpulan
Organisasi Mabit NF yang bergerak pada bidang pendidikan merupakan suatu inovasi  dengan menggunakan metode berbeda yang memiliki tujuan dalam kesuksesan di bidang pendidikan serta beragama. Kegiatan yang dilakukan berhasil terbukti dengan banyaknya alumni mabit yang mampu berkuliah di PTN yang tersebar di Indonesia dan setiap tahunnya hingga 2012 kini mampu terus bertambah dalam segi kuantitas anggotanya. Tahapan-tahapan bagaimana inovasi muncul pun sebenarnya telah dilalui oleh Mabit NF ini.

Referensi:
http://mabitnurulfikri.com/home/profile/22-profil-mabit

April 06, 2012

what should be we are?

Pembahasan

Berdasarkan gambar yang dikemukakan Rogers, tingkat keinovatifan suatu masyarakat terhadap inovasi menghasilkan lima kategori adopter atau pengguna suatu inovasi yakni:
gambar 1
1. Inovator adalah kelompok orang yang berani dan siap untuk mencoba hal-hal baru. Biasanya orang-orang ini adalah mereka yang memiliki gaya hidup dinamis di perkotaan yang memiliki banyak teman atau relasi.
2. Pengguna awal (early adopter ). Kategori adopter ini menghasilkan lebih banyak opini dibanding kategori lainnya, serta selalu mencari informasi tentang inovasi.
3. Mayoritas awal (early majority). Kategori pengadopsi seperti ini akan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi, bahkan bisa dalam kurun waktu yang lama. Orang-orang seperti ini menjalankan fungsi penting untuk menunjukkan kepada seluruh komunitas bahwa sebuah inovasi layak digunakan atau cukup bermanfaat.
4. Mayoritas akhir (late majority). Kelompok yang ini lebih berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan.
5. Lamban (laggard). Kelompok ini merupakan orang yang terakhir melakukan adopsi inovasi. Mereka bersifat lebih tradisional, dan segan untuk mencoba hal hal baru. Saat kelompok ini mengadopsi inovasi baru, kebanyakan orang justru sudah jauh mengadopsi inovasi lainnya, dan menganggap mereka ketinggalan zaman.

Lalu bagaimana sebenarnya hubungan antara innovativeness dengan kategori adopter yang digambarkan di atas? Menurut saya sesuai dengan penjelasan innovativeness adalah tingkat penggunaan oleh masyarakat terhadap suatu inovasi yang muncul, maka berdasarkan elemen difusi inovasi terkait dengan jangka waktu akan muncul-lah lima kategori adopter yang telah dipaparkan di atas. Kemudian apa yang membuat adanya kelima kategori tersbut muncul? Kelima kategori adopter muncul karena adanya karakteristik inovasi berupa Keuntungan relative (advantages), Kompatibel (compatibility), kompleksitas (complexity), Trialabilitas (trialability), dan Dapat diamati (observability).
Jadi hubungannya dapat dilustrasikan seperti berikut:

a. Apabila inovasi tersebut bisa menguntungkan bagi penggunanya maka tingkat innovativeness nya tinggi dan waktu pengadopsiannya cepat sehingga termasuk ke dalam kategori early adopter, majority adopter atau bahkan bisa termasuk ke dalam kategori innovator apabila bisa menghasilkan keuntungan khusus bagi dirinya sebagai pencipta. Namun sebaliknya, jika inovasi tersebut tidak terlalu memberikan keuntungan maka memerlukan waktu lama dalam menggunakan adopsi tersebut sehingga termasuk ke dalam kategori late majority atau bahkan laggard.
b. Apabila inovasi tersebut sesuai (kompatibel) bagi penggunanya maka tingkat innovativeness nya tinggi dan waktu pengadopsiannya cepat sehingga termasuk ke dalam kategori early adopter, majority adopter atau bahkan bisa termasuk ke dalam kategori innovator apabila inovasi tersbut benar-benar sesuai dengan dirinya sebagai inovator. Namun sebaliknya, jika inovasi tersebut tidak terlalu sesuai dengan apa yang dibutuhkan maka memerlukan waktu lama dalam menggunakan adopsi tersebut sehingga termasuk ke dalam kategori late majority atau bahkan laggard.
c. Apabila kompleksitas dan trialibilitas inovasi tersebut mudah dipahami dan dicoba oleh penggunanya maka tingkat innovativeness nya tinggi dan waktu pengadopsiannya cepat sehingga termasuk ke dalam kategori early adopter, majority adopter atau bahkan bisa termasuk ke dalam kategori innovator. Namun sebaliknya, jika inovasi tersebut sulit untuk dipahami dan dicoba maka memerlukan waktu lama dalam menggunakan adopsi tersebut sehingga termasuk ke dalam kategori late majority atau bahkan laggard.
d. Apabila observability suatu inovasi mudah diamati oleh penggunanya maka tingkat innovativeness nya tinggi dan waktu pengadopsiannya cepat sehingga termasuk ke dalam kategori early adopter, majority adopter atau bahkan bisa termasuk ke dalam kategori innovator. Namun sebaliknya, jika inovasi tersebut sulit untuk diamati maka memerlukan waktu lama dalam menggunakan adopsi tersebut sehingga termasuk ke dalam kategori late majority atau bahkan laggard.

Hasil Survey
Kemudian pertanyaan selanjutnya, sebagai lulusan teknologi pendidikan nantinya termasuk ke dalam kategori yang mana? Pertanyaan ini dijadikan suatu alat instrument untuk pendataan beragam jenis jawaban yang ada. Berikut ini adalah hasil survey yang dilakukan.
gambar 2
Berdasarkan data di atas mahasiswa cenderung menjawab sebagai teknolog pendidikan nantinya harus berposisi sebagai innovator dengan jumlah 26 orang. Disusul dengan jawaban Early adopter dan antara innovator dan Early Adopter masing-masing berjumlah 1 orang.


gambar 3 dan gambar 4

Berdasarkan klasifikasi jenis alasan yang diberikan mahasiswa terdapat lima jenis jawaban sebagai innovator dan masing-masing satu jenis alasan yang diberikan sebagai Early Adopter dan antara Early adopter dengan Innovator. Berikut ini adalah klasifikasi nya:
  •  Inn 1: TP mampu berpikir kreatif dan inovatif dalam memfasilitasi belajar.
  • Inn 2: TP terus mengembangkan ide dan gagasan baru dlm menghadapi tuntutan zaman serta sebagai agent of change yang mampu mendistribusikan inovasi dengan tepat.
  • Inn 3: mampu menciptakan dan memberikan inovasi yang baru sebagai solusi fasilitas belajar.
  • Inn 4: melahirkan benih atau sikap sebagai innovator dan atau memperhatikan variabel lain pula.
  • Inn 5: mencari gagasan baru dan mampu mengaitkan dengan sistem sosial.
  • Early Adopter: merasakan tidak ada efek samping dahulu yg merugikan
  • Antara Inn & EA: mudah bosan dengan nilai yang baku
Kesimpulan
Berdasarkan pendataan yang dilakukan dapat dijelaskan bahwa sebagian besar mahasiswa menganggap nantinya sebagai lulusan teknologi pendidikan berposisi sebagai innovator dengan jumlah sebanyak 26 orang dengan alasan yang cukup beragam, tetapi dapat ditarik secara umum bahwa sebagai teknolog pendidikan nantinya harus mampu menciptakan dan memberikan inovasi yang baru sebagai fasilitas belajar. yang menarik adalah ada nya jawaban mahasiswa yang menjawab bahwa dia berada pada posisi di antara innovator dan early adopter dikarenakan mudah bosan dengan nila yang ada.