October 07, 2010

Sejarah Perkembangan TP


Sejarah Teknologi Pendidikan dan Perkembangannya
I. Sejarah Perkembangan Teknologi Pendidikan di Dunia
Pada awalnya sebagai suatu disiplin ilmu, teknologi pendidikan berkembang di Amerika Serikat sebagai bidang kajian. Meskipun demikian beberapa penulis Amerika Serikat pendahulu atau nenek moyang (forefathers) Teknologi Pendidikan kebanyakan berasal dari Amerika Serikat.
Jika kita berpegangan konsep teknologi sebagai cara, maka awal perkembangan teknologi pendidikan dapat dikatakan telah ada sejak awal peradaban, di mana orang tua mendidik anaknya dengan memberikan pengalaman langsung serta memanfaatkan lingkungan.
Saettler berpendapat bahwa sumber tumbuhnya Teknologi Pendidikan dapat ditelusuri sampai kaum sufi dengan cara menjajakan pengetahuannya. Bahkan menurutnya cara dialog yang dilakukan oleh Socrates sampai sekarang masih digunakan sebagai metode pemecahan masalah (problem-solving method). Secara eksplisit bahwa Komensky merupakan pionir teknologi pendidikan dengan pendapat perlunya visualisasi dalam pengajaran yang tertuang dalam bukunya Orbis Sensalium Pictus. Sama halnya dengan Rousseau, Pestalozzi, Froebel yang menekankan perlunya rangsangan indra untuk meningkatkan efektivitas belajar. Dan prosedur pengajaran yang dikemukakan oleh Herbart dapat dikatakan sebagai awal yang kita kenal sekarang ini sebagai desain pembelajaran. Intinya para pemuka pendidikan memberikan kontribusi lahirnya suatu teknologi pendidikan.
Gerakan pengkajian dan pengembangan teknologi pendidikan dimotori oleh James D. Finn (1915—1969), seorang guru besar tetap dalam pendidikan di University of Southern California (USC). Beliau dianggap sebagai “Bapak” teknologi pendidikan. Karya-karya terpilihnya dihimpun oleh Ronald J. Mc Beath dalam buku Extending Educational Through Technology suatu referensi klasik yang diterbitkan oleh AECT pada tahun 1972.
Menurut Finn tahun 1920-an adalah awal perkembangan teknologi pendidikan. Istilah dan definisi formal pertama yang berhubungan dengan teknologi pendidikan adalah “pengajaran visual”. Dengan pengertian kegiatan mengajar dengan menggunakan alat bantu visual yang terdiri dari gambar, model, objek, atau alat-alat yang dipakai untuk menyajikan pengalaman konkret. Tujuannya adalah 1) memperkenalkan, menyusun, memperkaya atau memperjelas konsep yang abstrak; 2) mengembangkan sikap yang diinginkan; 3) mendorong timbulnya kegiatan siswa lebih lanjut.
Kemudian timbulnya rekaman suara dan film bersuara, aliran visual ini diperluas dengan menambahkan suara sehingga berkembang menjadi pengajaran audiovisual. Penuangan konsep paling nyata tedapat dalam Cone of Experience (kerucut pengalaman)oleh Edgar Dale pada tahun 1954. Aliran ini menekankan bahwa bahan audiovisual perlu diintregasikan ke dalam kurikulum.
Pada akhir Perang Dunia II mulai timbul suatu kecenderungan baru dalam dalam bidang audiovisual ke arah dua kerangka konseptual baru dalam bidang audiovisual, yaiutu teori komunikasi dan konsep sistem awal. Perhatian tidak lagi dipusatkan kepada benda-benda tetapi kepada seluruh proses komunikasi informasi mulai dari sumber (guru atau bahan ajar) sampai ke penerima atau sasaran (pembelajar).
Usaha untuk merumuskan definisi teknologi pendidikan secara terorganisasikan dimulai pada tahun 1960-an tepatnya 1963. Sampai pada tahun 2004 definisi teknologi pendidkan telah berkembang sebanyak enam kali.
Pengembangan definisi yang pertama dilakukan oleh the Technology Development Project dari The National Education Association dengan ketua tim Prof. Dr. Donald P. Elly pada tahun 1963 yaitu:
Komunikasi audio-visual adalah cabang dari teori dan praktik pendidikan khususnya yang berkepentingan dengan rancangan dan pemanfaatan pesan yang mengendalikan proses belajar. Kegiatan ini meliputi perencanaan, produksi, seleksi, pengelolaan dan pemanfaatan komponen-komponen sistem dan seluruh sistem pembelajaran. Tujuan praktisnya, yaitu efisiensi pemanfaatan tiap metode dan media komunikasi untuk membantu pengembangan potensi pembelajar secara maksimal.
Definisi ke dua oleh CIT (Commision on Instructional Technology)pada tahun 1970 mengacu kepada Pendekatan Sistem dan Pengembangan Instruksional. Definisi Teknologi Instuksional yan dirumuskan adalah:
Teknologi Pembelajaran merupakan usaha sistematik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar dan mengajar dalam rangka mencapai tujuan khusus komunikasi dan belajar pada manusia, dan menggunakan kombinasi sumber manusia dan non-manusia agar pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif.
Definisi ke dua belum dianggap lengkap sehingga pada tahun 1972 AECT mengeluarkan definisi baru yang ke tiga, yaitu:
Teknologi Pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia melalui usaha sistematik dalam identifikasi, pengembangan, pengorganisasian dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut.
Pada tahun 1975 AECT membentuk Komisi Definisi dan Terminologi yang dipimpin oleh Dr. Kenneth H. Silber dengan anggota sebanyak 26 orang. Definisi ke empat ini diterbitkan yaitu:
Teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisa masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar pada manusia. Pemecahan masalah terjelma dalam bentuk sumber belajar yang dirancang, dipilih dan/atau digunakan untuk keperluan belajar, dan yang terdiri dari pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar (lingkungan). Proses analisa masalah merupakan fungsi pengembangan pendidikan dalam bentuk riset/teori, desain, produksi, evaluasi-seleksi, logistic, pemanfaatan, dan penyebarluasan. Proses pengarahan dan koordinasi merupakan fungsi pengelolaan pendidikan yang meliputi pengelolaan organisasi dan personel.
Pada tahun 1990 AECT kembali membentuk Komisi Definisi dan Terminologi yang dipimpin oleh Barbara B. Seels. Laporannya ditulis akhir oleh Barbara Seels dan Rita C. Richey dalam buku Instructional Technology: The Definition and Domains of the Field tahun 1994. Definisi ke lima adalah sebagai berikut:
Teknologi Pembelajaran adalah teori dan praktik dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta evaluasi tentang proses dan sumber untuk belajar.
Kemudian definisi ke enam diterbitkan oleh AECT pada tahun 2004 yaitu:
Studi dan praktik yang berlandaskan etika dalam menfasilitasi belajar dan meningkatkan kinerja melalui penciptaan, penggunaan, dan pengelolaan pelbagai proses dan sumber teknologi yang tepat.
Komponen dalam definisi adalah:
• Teori dan praktik
• Kawasan desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian
• Proses dan sumber
• Untuk keperluan belajar

II. Sejarah Perkembangan Teknologi Pendidikan di Indonesia
Perkembangan Teknologi Pendidikan di Indonesia dapat diakatakan mengikuti perkembangan di Amerika Serikat. Perkembangan dimulai dengan digunakannya media atau alat peraga untuk menunjang kegiatan pengajaran. Bedanya di Amerika Serikat dengan Demokrasi Liberal memungkinkan tumbuhnya pemikiran dan tindakan oleh masyarakat, sedangkan di Indonesia mengharuskan restu dari pemerintah untuk mengembangkan pemikiran dan kegiatan pada saat Demokrasi Terpimpin.
Pada tahun 1951 diselenggarakan “school Broadcasting” sebagai suatu usaha rintisan meliputi Jakarta, Bandung, Bogor, dan Cirebon. Pada waktu itu dibenntuk panitia penyelenggara school broadcasting yagn diketuai oleh Sadarjoen Siswomartojo.
Pada tahun 1955 didirikan BKTPG (Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru) di Bandung. Program ini ditujukan kepada guru SD guna menyongsong program perluasan kesempatan belajar yang lebih berkualitas. Sekarang ini menjadi Pusat Pendembangan Penataran Guru Tertulis. Pada saat yang hamper bersamaan telah didirikan TAC (Teaching Aid Center) atau Balai Alat Peraga Pendidikan di Bandung dengan cabangnya di Malang. Lembaga ini bertugas mengkoordinasikan ketersediaan alat peraga pengajaran untuk sekolah-sekolah.
Pada REPELITA 1 sebenarnya suatu kebijakan berskala nasional sudah ditetapkan “…digunakan media massa: radio dan televise untuk peningkatan mutu sekolah dasar…” (RI, 1970:361). Pada tahun 1972 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kebijakan untuk mengembangkan sistem siaran pendidikan secara bertahap. Dimulai di tiga daerah kemudian dikembangkan ke 11 provinsi setelah dinilai berhasil.
Tahun 1974 Presiden Suharti sebenanarnya telah mencanangkan penggunaan satelit komunikasi domestik untuk penyebaran pendidikan tetapi tidak mendapat tanggapan konkret. Pada tahun 1973 dalam rangka kerja samadengan INNOTECH mulai diuji coba suatu sistem yang disebut SD PAMONG (pendidikan anak oleh masyarakat orang tua dan guru). Sistem ini mengembangkan bahan belajar berupa modul cetakan.
Rapat koordinasi teras Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menggariskan kebijakan pengembangan teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan pada tahun 1975 sebagai berikut:
• Kegiatan harus bertolak dari kebijakan pendidikan yang sudah ada
• Rencana kegiatan dikembangkan dari hasil analisa kebutuhan
• Diprioritaskan program pemerataan mutu pendidikan
• Dalam mengadakan pembaruan di sekolah harus dimulai dari titik pengkal strategis yaitu guru
• Media yang dikembangkan dan digunakan harus telah terbukti efektif
• Dibentuknya unti kerja yang akan menangani dan memanfaatkan teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan
• Pengembangan tenaga melalui latihan dalam berbagai aspek teknologi pendidikan
• Pengembangan program teknologi pendidikan pada perguruan tinggi
Pendidikan keahlian teknologi pendidikan dimulai pada tahun 1976 pada jenjang S1 dan tahun 1978 pada jenjang S2 dan S3. Mayoritas dosen yang mengajar didatangkan dari AS melalui bantuan teknis dari USAID. Kurikulum dan tenaga dosennya dikoordinasikan oleh Syracuse University dalam suatu konsorsium UCIDT (University Consortium of Instructional Developoment and Technology). Di Indonesia diawali dengan adanya alat peraga yang digunakan oleh guru-guru yang diharapkan maksimal. Teknologi pendidikan tidak hanya sebatas media tetapi juga berupa strategi yang diperlukan agar siswa belajar aktif.
Perkembangan terminologi telah menjadi bagian integral dalam sistem teknologi pendidikan. Istilah “pembelajaran” yang berfokus pada pemelajar (learner centered)untuk menggantikan istilah “pengajaran” yang teacher centered mulai diperkenalkan tahun 1973, telah dipakai secara meluas bahakan telah diakomodasikan dan bahkan dikuatkan dalam perundangan (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003). Sistem dan strategi pembelajaran yang hakikatnya merupakan penerapan konsep universal dalam konteks Indonesia juga telah berkembang. Beberapa bentuk sistem dan strategi pembelajaran di antaranya:
• Sistem SMP Terbukan dan Universitas Terbuka yang telah berkembang dan merupakan bagian integral sistem pendidikan nasional.
• Berkembangnya strategi belajar dan pembelajaran yang inovativ seperti belajar berbasis masalah, berbasis aneka sumber, peembelajaran elaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis computer, pembelajaran melalui televisi, dll.


Referensi:
Miarso, Yusufhadi Prof. Dr. M.Sc., 2009, “Menyemai Benih Teknologi Pendidikan”, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.